Jam'iyyatul Islamiyah (JmI)
Organisasi Jam'iyyatul Islamiyah Berlandaskan pada Alquran dan Hadis serta berasaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945

Berita

Narasumber Webinar Internasional (dari kiri atas): DR. K.H. Aswin R. Yusuf, Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D., dan Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah.
JAKARTA — Di tengah hiruk pikuk dunia yang makin materialistik, kerinduan untuk kembali ke sumber ketenangan spiritual tak pernah pudar. Baitullah, rumah mulia yang menjadi kiblat umat Islam, tidak sekadar tujuan fisik dalam ibadah haji atau umrah, tetapi juga simbol dari perjalanan batin untuk menghayati kebesaran Tuhan. Sayangnya, praktik ibadah haji dan umrah yang setiap tahunnya menarik jutaan umat muslim dari seluruh dunia seringkali kehilangan esensi spiritualnya.
Untuk menyelami kembali makna spiritual Baitullah, Dewan Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Islamiyah (DPP JmI) menggelar Webinar Internasional bertajuk “Affirming the Essence of Religion in Baitullah” (Memantapkan Hakikat Agama ke Baitullah), Minggu (22/06/2025), melalui Zoom Webinar yang diikuti lebih dari 2.833 peserta dari berbagai penjuru dunia.
Webinar ini menghadirkan refleksi mendalam dari para cendekiawan dan pemikir muslim lintas disiplin. Para narasumber tidak hanya membahas aspek ritual haji atau umrah, tetapi menggali makna terdalam dari perjalanan spiritual itu sendiri, bahwa perjalanan ke Tanah Suci sesungguhnya adalah langkah menapaki hakikat diri.
Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor Universitas Indonesia 2007–2012), membuka sesi dengan menyampaikan bahwa wukuf di Arafah adalah momen puncak ketika manusia berdiri seutuhnya di hadapan Tuhan, bukan hanya secara jasmani, melainkan juga secara ruhani. Ihram menjadi titik tolak pembebasan dari atribut duniawi, sebagai syarat awal penyucian jiwa untuk betul-betul tawajuh kepada Allah.
Memperkuat perspektif tersebut, Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D. (Sekretaris Balitbang & Diklat Kementerian Agama RI 2021–2023 dan Pengurus Eksekutif DPP JmI) menekankan pentingnya menjaga keikhlasan niat dalam perjalanan menuju Baitullah. Ia mengingatkan bahwa seringkali fisik kita telah sampai, tetapi hati dan ruh masih tertinggal oleh urusan dunia.
“Perjalanan ke Baitullah yang sejati adalah perjalanan yang membawa serta seluruh keberadaan diri kita: hati, pikiran, dan kesadaran akan siapa kita di hadapan Tuhan,” ungkapnya. Ia juga mendorong agar suasana batin yang khusyuk itu tak hanya dirasakan sendiri, tetapi dibawa pulang untuk membentuk lingkungan keluarga yang spiritual dan penuh kasih.
Sementara itu, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah (Ketua Majelis Guru Besar JmI) menjelaskan bahwa hakikat agama hanya bisa dicapai dengan memahami dua poros besar, yaitu dimensi transendensi (aspek spiritualitas) dan dimensi imanensi (aspek fisik dan realitas). Baitullah, dalam hal ini, menjadi poros spiritual yang mengikat umat Islam dalam keimanan bersama. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan pusat kesadaran Ilahiah. Lebih lanjut, ia mengutip QS. Al-Baqarah: 45 sebagai pengingat bahwa manusia seringkali melupakan diri saat menyuruh orang lain berbuat kebaikan, padahal hakikat agama menuntut keselarasan antara lisan, tindakan, dan hati.
Menguatkan pembahasan tersebut, Pembina JmI, Dr. K.H. Aswin R. Yusuf, memberikan sudut pandang yang mendalam tentang keterkaitan syariat dan spiritualitas. Ia menegaskan bahwa mendirikan salat sambil menghadap Baitullah bukan hanya formalitas syariat, melainkan bentuk keterhubungan ruhani dengan Tuhan. Pembina merujuk pada QS. An-Naml: 91: "Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan milik-Nyalah segala sesuatu. Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri."
Webinar ini menjadi ruang kontemplasi yang hidup, tidak sekadar teori, tetapi menyentuh kebutuhan terdalam manusia akan ketenangan, keikhlasan, dan tujuan spiritual yang benar. Hadir dalam webinar ini sejumlah tokoh nasional dan akademisi dari berbagai negara, antara lain Prof. Dr. Muhammad Saiful Akhyar Lubis, M.A. (Guru Besar UIN Sumatera Utara, Rektor Universitas Al Washliyah Medan periode 2025 – 2029), Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A. (Guru Besar UIN Alauddin Makassar), Prof. Dr. H. Muhammad Attamimy, M.Ag. (Guru Besar IAIN Ambon), Prof. Dato’ Haji Shushilil Azam Bin Shuib (Direktur Regional Education Malaysia untuk kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan 2002–2025), Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A. (Sekretaris Jenderal DPP JmI), dan puluhan guru besar dari berbagai daerah.

DEWAN PIMPINAN PUSAT
Jam'iyyatul Islamiyah (JmI)
Organisasi Jam'iyyatul Islamiyah Berlandaskan pada Alquran dan Hadis serta berasaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945
Berita / Berita Detail
Narasumber Webinar Internasional (dari kiri atas): DR. K.H. Aswin R. Yusuf, Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D., dan Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah.
JAKARTA — Di tengah hiruk pikuk dunia yang makin materialistik, kerinduan untuk kembali ke sumber ketenangan spiritual tak pernah pudar. Baitullah, rumah mulia yang menjadi kiblat umat Islam, tidak sekadar tujuan fisik dalam ibadah haji atau umrah, tetapi juga simbol dari perjalanan batin untuk menghayati kebesaran Tuhan. Sayangnya, praktik ibadah haji dan umrah yang setiap tahunnya menarik jutaan umat muslim dari seluruh dunia seringkali kehilangan esensi spiritualnya.
Untuk menyelami kembali makna spiritual Baitullah, Dewan Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Islamiyah (DPP JmI) menggelar Webinar Internasional bertajuk “Affirming the Essence of Religion in Baitullah” (Memantapkan Hakikat Agama ke Baitullah), Minggu (22/06/2025), melalui Zoom Webinar yang diikuti lebih dari 2.833 peserta dari berbagai penjuru dunia.
Webinar ini menghadirkan refleksi mendalam dari para cendekiawan dan pemikir muslim lintas disiplin. Para narasumber tidak hanya membahas aspek ritual haji atau umrah, tetapi menggali makna terdalam dari perjalanan spiritual itu sendiri, bahwa perjalanan ke Tanah Suci sesungguhnya adalah langkah menapaki hakikat diri.
Prof. Dr. der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor Universitas Indonesia 2007–2012), membuka sesi dengan menyampaikan bahwa wukuf di Arafah adalah momen puncak ketika manusia berdiri seutuhnya di hadapan Tuhan, bukan hanya secara jasmani, melainkan juga secara ruhani. Ihram menjadi titik tolak pembebasan dari atribut duniawi, sebagai syarat awal penyucian jiwa untuk betul-betul tawajuh kepada Allah.
Memperkuat perspektif tersebut, Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D. (Sekretaris Balitbang & Diklat Kementerian Agama RI 2021–2023 dan Pengurus Eksekutif DPP JmI) menekankan pentingnya menjaga keikhlasan niat dalam perjalanan menuju Baitullah. Ia mengingatkan bahwa seringkali fisik kita telah sampai, tetapi hati dan ruh masih tertinggal oleh urusan dunia.
“Perjalanan ke Baitullah yang sejati adalah perjalanan yang membawa serta seluruh keberadaan diri kita: hati, pikiran, dan kesadaran akan siapa kita di hadapan Tuhan,” ungkapnya. Ia juga mendorong agar suasana batin yang khusyuk itu tak hanya dirasakan sendiri, tetapi dibawa pulang untuk membentuk lingkungan keluarga yang spiritual dan penuh kasih.
Sementara itu, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah (Ketua Majelis Guru Besar JmI) menjelaskan bahwa hakikat agama hanya bisa dicapai dengan memahami dua poros besar, yaitu dimensi transendensi (aspek spiritualitas) dan dimensi imanensi (aspek fisik dan realitas). Baitullah, dalam hal ini, menjadi poros spiritual yang mengikat umat Islam dalam keimanan bersama. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan pusat kesadaran Ilahiah. Lebih lanjut, ia mengutip QS. Al-Baqarah: 45 sebagai pengingat bahwa manusia seringkali melupakan diri saat menyuruh orang lain berbuat kebaikan, padahal hakikat agama menuntut keselarasan antara lisan, tindakan, dan hati.
Menguatkan pembahasan tersebut, Pembina JmI, Dr. K.H. Aswin R. Yusuf, memberikan sudut pandang yang mendalam tentang keterkaitan syariat dan spiritualitas. Ia menegaskan bahwa mendirikan salat sambil menghadap Baitullah bukan hanya formalitas syariat, melainkan bentuk keterhubungan ruhani dengan Tuhan. Pembina merujuk pada QS. An-Naml: 91: "Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan milik-Nyalah segala sesuatu. Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri."
Webinar ini menjadi ruang kontemplasi yang hidup, tidak sekadar teori, tetapi menyentuh kebutuhan terdalam manusia akan ketenangan, keikhlasan, dan tujuan spiritual yang benar. Hadir dalam webinar ini sejumlah tokoh nasional dan akademisi dari berbagai negara, antara lain Prof. Dr. Muhammad Saiful Akhyar Lubis, M.A. (Guru Besar UIN Sumatera Utara, Rektor Universitas Al Washliyah Medan periode 2025 – 2029), Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A. (Guru Besar UIN Alauddin Makassar), Prof. Dr. H. Muhammad Attamimy, M.Ag. (Guru Besar IAIN Ambon), Prof. Dato’ Haji Shushilil Azam Bin Shuib (Direktur Regional Education Malaysia untuk kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan 2002–2025), Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A. (Sekretaris Jenderal DPP JmI), dan puluhan guru besar dari berbagai daerah.
© 2023 Organisasi Jam'iyyatul Islamiyah (JmI)
v.1.0.0